Buku Filsafat
Buku Linguistik
Catatan: Untuk menuju ke tautan dapat di klik pada tulisan tersebut
Jumat, 05 Juni 2015
Senin, 23 Februari 2015
BAHASA SEBAGAI WACANA OLEH FATAH YASIN
WACANA
Oleh: Moh. Fatah Yasin
BAHASA SEBAGAI
WACANA
Istilah-istilah
yang membicarakan masalah bahasa sebagai wacana pada dasarnya baru. Baru dalam
arti istilah-istilah tersebut tidak dapat dirumuskan secara memadai tanpa
adanya kemajuan yang luar biasa dalam bidang linguistic modern. Jika
istilah-istilah wacana dianggap baru, tetapi sebenarnya masalah-masalah wacana
sendiri bukanlah masalah baru.
Masalah-masalah
wacana terebut telah disinggung dalam Cratylus,
Plato telah menunjukkan bahwa masalah “kebenaran” kata/nama yang berdiri
sendiri harus tetap tidak ditentukan karena menamai tidak menjelaskan kekuatan
atau fungsi berbicara. Logos bahasa memerlukan sedikit-dikitnya nama dan verba.
Jalinan dua kata itulah yang membentuk unit pertama bahasa dan pemikiran.
Kesatuan ini menuntut akan kebenaran dari kesatuan itu.
Masalah tersebut
berulang lagi dalam karya Plato yang lebih matang seperti Theaetetus dan Sophis.
Dalam karya tersebut Plato mengatakan bagaimana memahami sesuatu, karena
sesuatu itu bersifat “mungkin”.
Berbicara menurut Plato adalah selalu mengatakan sesuatu. Bertolak dari
pendapatnya itu, akhirnya Plato terpaksa menyimpulkan bahwa suatu kata dengan
sendirinya tidak benar tidak pula salah, meskipun suatu kombinasi kata-kata
bisa berarti sesuatu meskipun tidak menangkap sesuatu. Pembawa paradoks ini
adalah kalimat, bukan kata.
Paradigma di
atas ini merupakan konteks pertama tentang konsep wacana. Dalam pemikiran
tersebut ditemukan bahwa salah dan benar adalah “kecenderungan” wacana. Wacana
memerlukan dua tanda dasar yaitu kata benda dan kata kerja yang dikaitkan dalam
satu sintesis yang melampaui kata-kata. Aristoteles menyatakan hal yang sama
dalam bukunya On Interpretation. Dia
mengatakan “Nomina mempunyai makna yang dipunyai verba, di samping makna juga
indikasi waktu. Hanya konjungsinya menampilkan rantai/hubungan predikatif yang
selanjutnya disebut logos wacana. Unit sintesis inilah yang membawa tindakan
ganda pernyataan lain, dan pernyataan ini bisa benar atau salah.
Setelah masa ini
masalah wacana menjadi masalah murni (genuine) karena wacana sekarang
dipertentangkan dengan istilah yang sebaliknya yang tidak dikenal atau dianggap
sudah semestinya oleh filsuf kuno. Istilah lawan ini sekarang menjadi objek
otonom penelitian ilmiah. Istilah sebaliknya itu beranggapan bahwa kode
linguistiklah yang memberi struktur khas bagi setiap sistem linguistic, yang
orang umum mengenalnya sebagai macam-macam bahasa yang diucapkan oleh komunitas
linguistic yang berbeda. Bahasa di sini kemudian berarti sesuatu yang lain
daripada kapasitas umum untuk berbicara atau kompetensi berbicara yang umum. Ia
menunjuk pada struktur dari sistem linguistic.
Munculnya
kata-kata “struktur” dan “sistem” memunculkan
problematic yang baru dalam bidang wacana.
Munculnya kata-kata tersebut berimplikasi bahwa wacana bukan bagian dari
linguistic, karena perhatian utama linguistic adalah bahasa sebagai struktur
dan sistem dan bukan dipakai sebagai “digunakan”. Oleh karena itu, dalam
pembahasan linguistic awalnya wacana tidak didudukkan sebagai masalah genuine
linguistic, karena linguistic tidak pernah mempertimbangkan isi pesan,
maksud/tujuan penggunaan bahasa, jenis media penyampai, konteks, waktu, dan status pengguna bahasa.
LANGUE DAN PAROLE
: MODEL STRUKTURAL
Mundurnya masalah wacana dalam
studi bahasa kontemporer diakibatkan oleh terlalu kuatnya pengaruh Cours de Linguistique General dari
linguis Swiss Saussure. Karyanya bertumpu pada perbedaan fundamental antara
bahasa sebagai langue dan sebagai parole. Pendapat inilah yang membentuk
linguistic modern. Perlu diperhatikan bahwa Saussure dalam hal ini tidak bicara
“wacana” , tetapi “parole”.
Pendapat Saussure ini sebenarnya
banyak dipengaruhi oleh pendapat Durkheim. Saussure berpendapat bahwa
linguistic adalah cabang dari sosiologi. Ada beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan terhadap dikotomi penting ini jika dikaitkan dengan beberapa
perbedaan tambahan. Pesan itu individual, kodenya kolektif. Pesan dan kode
tidak termasuk waktu tidak bisa diperlakukan sama.
Pesan adalah peristiwa atemporal
dalam urutan-urutan peristiwa yang merupakan dimensi diakronis waktu, sedangkan
kode ada dalam waktu sebagai seperangkat unsure yang sewaktu, yaitu sebagai sistem
sinkronis.
Pesan itu intensional. Ia
direncanakan oleh seseorang. Kode anonim dan tidak direncanakan. Dalam hal ini
kode tidak disadari, bukan dalam arti bahwa dorongan dan impuls tidak disadari
menurut metapsikologi Frudian, tetapi dalam arti tidak disadari secara
structural nonlibidinal dan kultural.
Pesan itu arbitrer dan kontingen/tidak
pasti, sedang kode itu sistematik dan memaksa bagi masyarakat yang berbicara.
Pertentangan terakhir ini mecerminkan bahwa pendapat Saussure tentang “parole”
dan “langue” jatuh pada ranah kedekatan kode untuk penelitian ilmiah tentang
fonologis, leksikal, dan sintaksis. Parole secara ilmiah hanya membahas akustik,
fisiologi, sosiologi dan sejarah perubahan semantic, sedangkan langue adalah
objek satu ilmu deskripsi sistem sinkronis bahasa. Pendapat Saussure ini akan
menyebabkan terkurungnya “pesan” untuk
kebutuhan kode, “peristiwa” untuk kebutuhan sistem, “intensi” untuk kebutuhan
struktur, dan “kesewenang-wenangan tindakan” untuk sistematisitas kombinasi
dalam sistem sinkronis.
Berdasarkan uraian di atas dapat
ditarik beberapa postulat model structural , yaitu:
1.
Pendekatan sinkronis harus mendahului pendekatan
diakronis apa pun karena sistem lebih dapat dipahami daripada perubahan.
Perubahan itu adalah perubahan sebagian atau seluruh dalam suatu keadaan dari
suatu sistem. Oleh karena itu, sejarah perubahan harus dating setelah teori
yang mendeskripsikan keadaan sinkronis sistem itu.
2.
Kasus paradigmatic untuk pendekatan structural
adalah kasus seperangkat entitas diskrete yang terbatas. Sistem fonologi
mungkin tampak memuaskan postulat kedua ini secara langsung daripada yang
dilakukan sistem leksikal dimana kreteria keterbatasan lebih sulit diterapkan
secara konkrit.
3.
Dalam sistem tanda hanya ada perbedaan, tetapi
tidak ada eksisistensi substansial (Saussure). Postulat ini membatasi sifat
formal entitas linguistic. Formal di sini dipertentangkan dengan substansial
dalam arti eksistensi positif otonom dari entitas yang dipertaruhkan dalam
linguistic dan pada umumnya, dalam semiotic.
4.
Dalam sistem terbatas semacam itu, semua
hubungan itu imanen terhadap sistem. Dalam hal ini sistem semiotic itu tertutup
dalam arti tanpa hubungan dengan realitas`eksternal nonsemiotik. Definisi tanda
yang diberikan oleh Saussure telah menyiratkan postulat ini (tanda dan benda
bersifat permanen). Padahal semiotic sebenarnya bersifat terbuka tetapi
dibatasi oleh hubungan eksternal antara tanda dan benda.
Berdasarkan
postulat di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa bahasa dalam teori structural
tidak lagi tampak sebagai mediasi antara pikiran dan benda. Bahasa didudukkan sebagai
dunia tertutup, dimana setiap hal hanya mengacu pada hal lain dari sistem yang
sama, karena saling berpengaruh oposisi dan perbedaan yang konstitutif dari
sitem itu. Oleh karena itu, bahasa tidak lagi diperlakukan sebagai “bentuk
kehidupan” , tetapi sebagai sistem swasembada hubungan batin. Pada titik
ekstrem ini bahasa didudukkan sebagai wacana hilang.
Minggu, 22 Februari 2015
SENSE DAN REFERENCE OLEH FATAH YASIN
WACANA
MAKNA
SEBAGAI “SENSE” DAN “REFERENCE”
OLEH
MOH. FATAH
YASIN
MAKNA SEBAGAI
“SENSE” DAN “REFERENCE”
Dalam
dua pertemuan terdahulu dialektika peristiwa dan makna telah berkembang sebagai
dialektika batin makna wacana. Makna adalah apa yang dilakukan
pembaca/pendengar. Makna juga sesuatu yang dilakukan kalimat. Makna tuturan
(dalam arti isi proposisi adalah sisi “objektif” makna ini. Makna penutur—mempunyai arti rangkap tiga,
yaitu acuan diri kalimat, dimensi ilokusioner tindak ujaran, dan intense
pengakuan oleh pembaca/pendengar. Intensi pengakuan oleh pembaca/pendengar ini
merupakan sisi “subjektif” makna itu.
Dialektika
subjektif-objektif ini tidak menjelaskan maknanya makna (the meaning of meaning) dan oleh sebab itu tidak menjelaskan struktur
wacana. Sisi “objektif” wacana itu sendiri bisa dijelaskan melalui dua cara
yang berbeda, yaitu di satu sisi boleh diartikan “apa” wacana dan “tentang apa”
wacana.
“Apa”nya
wacana adalah “sense”nya dan “tentang apa” wacana adalah “reference”nya. Perbedaan
antara sense dan reference diperkenalkan dalam filsafat modern oleh Gottlob
Frege dalam artikelnya yang terkenal “Ueber
Sinn und Bedeutung”, yang telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “On Sense and Reference” oleh Max
Black dalam buku “Translations from the
Philosiphical of Gottlob Frege”. Di dalam artikel ini sense dan reference
dibedakan secara langsung yang dikaitkan dengan perbedaan awal yang telah kita
singgung minggu yang lalu yaitu perbedaan semiotic dan semantic.
Pada
tingkat kalimat semiotic dan semantic membebaskan kita untuk membedakan yang
dikatakan dan tentang apa yang ia katakan. Dalam system bahasa katakanlah
sebagai leksikon, tidak ada masalah reference; tanda hanya mengacu pada tanda
lain dalam system itu. Namun, jika bentuknya kalimat, maka bahasa diarahkan
melampaui dirinya.
Jika
sense itu imanen terhadap wacana itu dan objektif dalam arti ideal, reference
mengungkapkan gerak di mana bahasa melampaui dirinya sendiri. Dengan kata lain,
sense berkorelasi dengan fungsi identifikasi dan fungsi predikatif dalam
kalimat, dan reference menghubungkan bahasa dengan dunia.
Bedasarkan
uraian di atas membuktikan bahwa bahasa mempunyai acuan hanya jika ia
digunakan. Kalimat yang sama bisa mempunyai sense yang sama bisa juga memiliki
sense yang berbeda bergantung pada lingkungan atau situasi tindakan wacana.
Mengacu adalah apa yang kalimat lakukan dalam situasi tertentu dan menurut
pemakaian tertentu. Mengacu juga merupakan apa yang dilakukan pembicara ketika
ia menerapkan kata-katanya dalam realitas. Seseorang mengacu pada sesuatu pada
waktu tertentu adalah peristiwa (peristiwa ujaran). Peristiwa ini menerima
strukturnya dari makna sebagai sense. Hal ini menunjukkan adanya dialektika
peristiwa dan makna menerima suatu perkembangan baru dari dilektika sense dan
reference.
Dialektika
sense dan reference ini begitu orisinal sehingga ia dapat dianggap sebagai
pedoman yang bebas. Hanya dialektika ini yang mengatakan sesuatu hubungan
antara bahasa dengan kondisi ontologism yang berada di dunia. Bahasa bukanlah
suatu dunia sendiri. Ia bahkan bukan suatu dunia. Tetapi, karena kita berada di
dunia, kita dipengaruhi oleh situasi, dan kita mengorientasikan diri kita
secara komprehensif di dalam situasi itu, kita memiliki sesuatu untuk dikatakan,
kita memiliki pengalaman untuk dibawa ke bahasa.
Pengertian
membawa pengalaman ke bahasa ini adalah kondisi ontologism referensi. Kondisi
ontologism yang tercermin dalam bahasa sebagai postulat yang tidak memiliki
pembenaran imanen. Menurut postulat itu, kita meyakini eksistensi benda-benda
yang kita identifikasi. Kita meyakini bahwa sesuatu harus ada agar sesuatu itu
bisa diidentifikasi. Postulat eksistensi sebagai dasar identifikasi ini adalah
apa yang dimaksud Frege dengan mengatakan seseorang pengujar tidak puas dengan
sense saja, tetapi ia juga meyakini reference.
Dialektika
sense dan reference ini begitu penting untuk dipahami, karena dialektika ini
mempunyai postulat bahasa sama sekali tidak referensial. Dalam hal ini bahasa
diragukan mempunyai makna. Selanjutnya, bagaimana kita mengetahui bahwa tanda
berarti sesuatu, jika tanda itu tidak terarah kepada sesuatu yang menyebabkan
tanda itu berada di dalam wacana? Akhirnya, Semiotik tampil sebagai abstraksi
semantic belaka. Di sinilah definisi semiotic sebagai tanda sebagai perbedaan
imanen antara penanda dan petanda memerlukan definisi
semantiknya sebagai referens ke benda yang menyebabkan benda itu berada di
sana. Definisi semantic yang paling kongkrit adalah teori yang menghubungkan
konstitusi sense yang imanen ke intense reference yang transenden.
Makna
universal dari masalah reference ini begitu luas sehingga makna penutur harus
diungkapkan dalam bahasa acuan sebagai acuan diri wacana, yaitu sebagai
penunjuk pembicaranya oleh struktur wacana itu. Wacana mengacu kembali ke
pembicaranya pada saat yang sama ia mengacu ke dunia. Korelasi ini tidaklah
kebetulan, karena pada akhirnya si pembicaralah yang mengacu pada dunia dalam
berbicara. Wacana dalam tindakan dan dalam pemakaian mengacu ke given dan new information, ke pembicara dan ke dunia
ACUAN DIRI WACANA OLEH FATAH YASIN
WACANA
OLEH
MOH. FATAH YASIN
MAKNA PENUTUR DAN MAKNA TUTURAN
ACUAN DIRI WACANA
Konsep wacana membolehkan dua
penafsiran yang mencerminkan dialektika utama antara peristiwa dan makna. Makna
adalah apa yang pembicara maksud, yaitu apa yang ia rencanakan untuk dikatakan,
dan apa yang kalimat maksud yang merupakan hasil konjungsi antara fungsi
identifikasi dan fungsi predikatif. Makna dengan kata lain adalah sekaligus
noetik dan noematik.
Kita bisa menguhubungkan acuan
wacana ke pembicaranya dengan sisi dialektika peristiwa. Peristiwa adalah
seseorang yang berbicara. Dalam hal ini system atau kode itu anaonim sejauh
bahwa ia hanya virtual. Bahasa tidak berbicara. Orang-oranglah yang berbicara.
Namun, sisi proposisional acuan diri wacana harus tidak diremehkan jika makna
penutur, (meminjam istilah Grice) tidak diredusir hanya ke intense psikologis.
Makna mental tidak dapat ditemukan di mana pun kecuali dalam wacana itu
sendiri. Makna penutur mempunyai tandanya dalam makna tuturan.
Linguistik wacana, yang disebut
semantic untuk membedakannya dari semiotic, memberikan jawabannya. Struktur
batin kalimat mengacu kembali ke pembicara melalui prosedur gramatikal, yang
oleh para linguis disebut “shifters”. Kata ganti orang misalnya, tidak memiliki
makna objektif. “Saya” bukan konsep. Tidak mungkin mengganti “saya” dengan
ekspresi universal seperti “orang yang sekarang berbicara”. Hanya fungsinya
adalah mengacukan seluruh kalimat pada subjek peristiwa ujaran. Kata ganti
tersebut memiliki makna baru setiap kali kata ganti tersebut digunakan dan
setiap kali ia mengacu pada subjek singular. “Saya” adalah orang yang dalam
berbicara menerapkan pada dirinya sendiri. Untuk memahami kata “Saya” perlu
memperhatikan shifters lain yang membawa acuan gramatikal wacana lain ke
pembicaranya juga, misalnya adverbial waktu, ruang dan kata penunjuk yang bisa
dianggap sebagai particular egosentris. Oleh sebab itu, wacana memiliki banyak
cara yang dapat menggantikan dalam mengacu kembali ke pembicaranya.
Jika kita memberikan perhatian
pada sarana gramatikal mengenai acuan diri wacana ini kita memperoleh dua
keuntungan. Di satu pihak kita mendapatkan criteria baru perbedaan antara
wacana dank ode linguistic. Di lain pihak, kita dapat member definisi makna
penutur yang nonpsikologis, karena betul-betul semantic. Tidak ada entitas
mental yang perlu dihipotesiskan atau dianggap sebagai realitas. Makna tuturan
menunjuk kembali ke makna penutur berkat acuan diri wacana ke dirinya sebagai
peristiwa.
TINDAKAN LOKUSIONER DAN ILOKUSIONER
Sumbangan pertama pada
pendekatan semantic adalah analisis linguistic (Anglo Amerikan) “tindak ujaran”
yang terkenal J.L. Austin adalah yang pertama memperhatikan bahwa
“performatives”, seperti “janji” menyiratkan adanya komitmen khusus si
pembicara untuk melakukan apa yang dikatakannya dalam berbicara itu. Dengan
berkata “Saya berjanji”, ia betul-betul berjanji, yaitu meletakkan dirinya di
bawah kewajiban melakukan apa yang dikatakannya akan dilakukan. “Tindakan” berkata ini bisa diasimilasikan
dengan kutub peristiwa pada dialektika peristiwa dan makna. Namun, “tindakan”
ini juga mengikuti peraturan semantic yang ditunjukkan oleh struktur kalimat
itu: verba harus menjadi verba orang pertama indikatif. Dalam hal ini suatu
“grammar” khusus mendukung kekuatan performatif wacana itu. Performatives
hanyalah kaus khusus dari sifat umum yang ditunjukkan oleh setiap kelompok
tindak ujaran, apakah tindak ujaran itu perintah, harapan, pertanyaan, atau
pengakuan, semuanya selain mengatakan sesuatu (tindakan lokusioner), melakukan
sesuatu di dalam berkata (tindakan ilokusioner), dan menghasilkan akibat dengan
berkata (perlokusioner).
Tindakan ilokusioner adalah apa
yang membedakan janji dengan perintah, keinginan, atau pernyataan. Kekuatan
tindakan ilokusioner menghadirkan dialektika peristiwa dan makna yang sama.
Dalam setiap kasus “gramar” yang khas sesuai dengan intensi tertentu dimana
tindakan ilokusioner mengungkapkan kekuatan yang berbeda. Apa yang dapat
diungkapkan dalam istilah psikologi seperti mempercayai, menginginkan, atau
menghasratkan, ditanam dengan eksistensi semantic berkat korelasi antara sarana
gramatikal ini dan tindakan ilokusuioner itu.
TINDAKAN INTERLOKUSIONER
Sumbangan lain pada dialektika
peristiwa dengan isi proposisi diberikan oleh apa yang disebut tindakan
interlokusioner atau tindakan alokusioner untuk menjaga simetri dengan aspek
ilokusioner tindak ujaran.
Satu aspek penting wacana adalah
bahwa ia disampaikan kepada seseorang. Ada pembicara lain yang merupakan si
penerima dari wacana itu. Kehadiran pasangan pembicara dan pendengar membuat
bahasa sebagai komunikasi. Namun, studi bahasa dari sudut komunikasi tidak
dimulai dengan sosiologi komunikasi. Coba cermati pendapat Plato yang
mengatakan dialog adalah struktur penting wacana. Bertanya dan menjawab,
mempertahankan gerakan dan dinamika berbicara dan dalam satu arti keduanya
tidak membentuk mode wacana yang satu di antara mode wacana lain. Setiap
tindakan ilokusioner adalah sejenis pertanyaan. Menyatakan sesuatu adalah
mengharapkan persetujuan, persis`seperti member perintah adalah mengharapkan
kepatuhan. Bahkan solilokui---wacana
soliter—adalah dialog dengan diri sendiri, atau untuk mengutip Plato sekali
lagi, diaonia adalah dialog jiwa
dengan dirinya.
Beberapa linguis berusaha
merumuskan kembali semua fungsi bahasa sebagai variable dalam suatu model yang
menyatakan komunikasi adalah kuncinya. Roman Jacobson, misalnya, mulai dari
hubungan rangkap tiga antara pembicara, pendengar, dan pesan, kemudian menambah
tiga factor pelengkap yang memperkaya modelnya. Ketiga factor pelengkap itu
adalah kode, kontak, dan konteks. Atas`dasar enam system factor ini ia
membangun enam skema fungsi. Pembicara sejajar dengan fungsi emotifnya,
pendengar dengan fungsi konatif, pesan dengan fungsi poetic. Kode menunjuk
fungsi metalinguistik, sedangkan kontak dan konteks adalah pembawa fungsi
referensial dan fatik.
Model ini menarik karena model
ini dapat mencerminkan (1) mendeskripsikan wacana secara langsung dan tidak
sebagai sisa bahasa, (2) mendeskripsikan struktur wacana dan tidak hanya
peristiwa irrasional, dan (3) model ini tidak mengutamakan fungsi kode pada
operasi komunikasi yang berhubungan.
Untuk memahami model ini aspek
baru dialektika peristiwa dan makna patut mendapat perhatian. Peristiwa bukan
hanya pengalaman sebagai diungkapkan dan dikomunikasikan, tetapi juga
pertukaran intersubjektifitas itu sendiri dalam peristiwa dialog. Dialog adalah
peristiwa yang menghubungkan dua peristiwa, peristiwa berbicara dan peristiwa
mendengar. Dalam peristiwa dialog inilah pemahaman sebagai makna homogen. Sampai
di sini ada satu pertanyaan “aspek apa dari wacana itu sendiri yang
dikomunikasikan secara bermakna dalam peristiwa dialog?
Jawaban pertama jelas. Apa yang
dapat dikomunikasikan pertama-tama adalah isi proposisi wacana, dan kita dibawa
kembali ke criteria utama kita yaitu wacana sebagai peristiwa plus makna. Oleh
karena itu, arti sebuah kalimat adalah apa yang dikatakan bukan apa yang
dimaksud (pesan). Arti kalimat (yang dikatakan) dapat ditransfer dalam
peristiwa yang lain, tidak demikian dengan maksud (pesan).
Pesan memiliki dasar
kemampuannya untuk dapat dikomunikasikan dalam struktur maknanya. Hal ini
mengandung arti bahwa seseorang dalam berkomunikasi sebenarnya mengkomunikasikan
sintesis baik fungsi identifikasi (darimana subjek logika adalah pembawanya)
dan fungsi predikatif (yang secara
universal potensial). Berbicara kepada seseorang (lihat juga solilokui dan diaonia)
berarti seseorang itu menunjuk kea rah hal yang unik yang dimaksud, berkat
sarana nama diri, kata penunjuk, dan deskripsi yang terbatas, seseorang
tersebut dapat membantu orang lain mengidentifikasi hal yang sama yang ia
tunjuk sendiri berkat sarana gramatikal yang melengkapi suatu pengalaman tunggal
dengan dimensi yang umum.
Tentu saja dalam komunikasi yang
pertama kali saling memahami ini tidak berjalan tanpa kesalahpahaman tertentu.
Sebagian besar kata-kata yang digunakan dalam komunikasi adalah polisemis.
Kata-kata tersebut memiliki lebih dari satu arti. Namun, fungsi kontekstual
wacanalah yang menyaring. Fungsi dialoglah yang memulai fungsi penyaringan dari
konteks itu. Yang kontekstual adalah yang dialogis. Dalam arti inilah peran
kontekstual dialog mengurangi bidang kesalahpahaman mengenai isi proposisi dan
sebagian besar orang berhasil mengatasi ketidakmampuan mengkomunikasikan
pengalaman.
Perlu dicermati, isi proposisi
hanya korelat tindakan lokusioner. Selanjutnya, apa yang dapat dikomunikasikan
oleh aspek tindak ujaran lain seperti tindakan ilokusiner? Disinilah dialektika
tindakan struktur, peristiwa, dan makna paling kompleks. Bagaimana cirri wacana
yang konstatif atau performatif, tindakan yang menyatakan sesuatu atau
memerintah, mengharap, berjanji, atau memperingatkan dapat dikomunikasikan dan
dipahami? Inilah fungsi dari tindakan
ilokusioner.
Tidak ada keraguan bahwa lebih
mudah menyalahkan tindakan ilokusioner yang satu demi tindakan ilokusioner yang
lain daripada menyalahpahami tindakan proposisional. Alasan utamanya adalah fakta
nonlinguistic terjalin dengan tanda linguistic. Faktor-faktor nonlinguistic itu
adalah wajah, gesture, dan intonasi suara. Faktor-faktor ini lebih sulit
ditafsirkan karena factor-faktor tersebut tidak bersandar pada unit-unit
diskret, kode mereka lebih tidak stabil dan pesan mereka lebih mudah
disembunyikan. Namun, tindakan ilokusioner bukan tanpa tanda linguistic. Tanda
linguistic untuk tindakan ilokusioner dapat berupa pemakaian modalitas
gramatikal seperti indikatif, subjungtif, imperative, dan optatif, serta
tenses. Menulis tidak hanya menyimpan tanda linguistic ujaran lisan, ia juga
menambah tanda pembeda pelengkap seperti tanda kutip, tanda seru, dan tanda
tanya untuk menunjukkan ekspresi gesture dan wajah, yang hilang ketika
pembicara menjadi penulis. Dalam banyak hal tindakan ilokusioner dapat
dikomunikasikan sejauh “grammar”nya melengkapi peristiwa itu dengan struktur
yang umum.
Kriteria noetik merupakan
intense dari kemampuan berkomunikasi, harapan pengakuan dalam tindakan
intensional itu sendiri. Noetik adalah jiwa wacana sebagai dialog. Oleh karena
itu, perbedaan antara yang lokusioner dan yang ilokusioner tidak ada selain
kehadiran intense di dalam yang pertama dan ketidakhadiran intense dalam yang
kedua untuk menghasilkan pada pendengar suatu tindakan mental tertentu
(perlokusioner) di mana si pendengar akan mengakui intense interlokutor.
Kesimpulan yang dapat diambil
dari uraian ini adalag
1. Bahasa
itu sendiri adalah proses di mana pengalaman individual dibuat menjadi umum;
2. Bahasa
adalah eksteriorisasi di mana impresi ditingkatkan menjadi ex-pressi atau
dengan kata lain transformasi psikis ke noetik.
Langganan:
Postingan (Atom)